Selamat
pagi. Selamat berhari Senin, dan selamat memulai minggu yang krusial ini.
Barusan
saja, aku membuka arsip catatan di akun facebookku. Kubaca lagi coretan-coretan
masa labilku. Ah, ternyata aku yang dulu begitu memalukan. Lemah dan mudah
terpuruk, menjijikkan. Kulihat, dulu sekali, catatanku tak banyak beralih dari topik
seputar kaum adam. Ya semuanya terkait dengan seorang pria disana yang dengan luar biasanya mampu
mengubah keadaan hatiku, menjadi linglung luar biasa dalam hitungan detik.
Rasanya menyesal mengingat itu semua. Jariku bergerak menuju label remove, namun hatiku mengetuk. Jangan hapus katanya, biarkan saja itu cambuk bagimu. Benar katanya, biarlah aku tak mau mengganggu eksistensinya.
Rasanya menyesal mengingat itu semua. Jariku bergerak menuju label remove, namun hatiku mengetuk. Jangan hapus katanya, biarkan saja itu cambuk bagimu. Benar katanya, biarlah aku tak mau mengganggu eksistensinya.
Masa
remaja itu cermin, portal dan segala hal yang mengingatkanku untuk tak pernah
benar-benar terlena di pangkuan pesona sang khayal. Aku belajar banyak ketika
itu. Aku belajar bagaimana rasanya menangis, tertawa, terpesona, cemburu dan
banyak rasa yang lain. Tapi tunggu, aku juga belajar saat itu, belajar tentang
mengikhlaskan. Belajar tentang bagaimana aku akan menjadi manusia yang tegar,
kokoh tak bergeming diterpa gelombang.
Yah
itu tentang aku yang dulu, kini…
Mungkin
aku sudah berubah, mungkin juga tidak
Entahlah
namun setidaknya kini aku tahu, aku diciptakan Tuhan disini, ada, bernyawa dan bersuara untuk kamu. Iya kamu.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar